Close Menu
  • Home
  • Peristiwa
  • Politik
  • Tekno
  • Viral
  • Sport
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Profil
  • Global

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

H Afrijon Ponggok, Sosok Komunikator Strategis, Pemimpin Korporasi dan Penggerak Sosial

13 Juni 2026

Wah, Bos Blueray Ungkap Beri Uang Rp91 Miliar ke Pejabat Bea Cukai

12 Juni 2026

Marc Marquez Dipuji Bos: Strategi di MotoGP Hungaria Nyaris Sempurna!

12 Juni 2026
Facebook X (Twitter) Instagram
Minggu, 14 Juni 2026
Facebook X (Twitter) Instagram
POJOKMETRO
  • Home
  • Peristiwa
  • Politik
  • Tekno
  • Viral
  • Sport
  • Lifestyle
  • Otomotif
  • Profil
  • Global
POJOKMETRO
Home»Headline»Kelahiran Jeblok, Setengah Kota Jepang Diprediksi ‘Hilang’
Headline Pilihan editor

Kelahiran Jeblok, Setengah Kota Jepang Diprediksi ‘Hilang’

IndrawanBy Indrawan30 Agustus 2024
Facebook Twitter WhatsApp Telegram LinkedIn
Penduduk Jepang semakin tua dan angka kelahiran anjlok. (ist)
Share
Facebook Twitter Telegram WhatsApp Copy Link

Jakarta – Krisis populasi kini menjadi masalah yang besar untuk Jepang. Rendahnya angka pernikahan dan pasangan muda yang mau memiliki anak disebut-sebut menjadi salah satu penyebab situasi tersebut di negara tersebut.

Profesor Tomoya Mori dari Universitas Kyoto melakukan simulasi bagaimana situasi kota-kota di Jepang pada tahun 2120 yang dalam skenario terburuk, penduduk diperkirakan akan berkurang sepertiga dari saat ini. Hal tersebut dilakukan dengan model statistik berdasarkan data dari 50 tahun terakhir dan menggabungkan faktor-faktor seperti penurunan populasi, tren urbanisasi, dan perubahan biaya transportasi serta komunikasi.

Tomoya menyampaikan bahwa pada tahun 2020, Jepang memiliki 83 kota dengan sedikitnya 100 ribu penduduk dan 21 kota dengan sedikitnya 500 ribu penduduk. Pada tahun 2120, berdasarkan skenario tingkat kesuburan sedang, jumlah kota dengan sedikitnya 100 ribu dan 500 ribu penduduk akan berkurang masing-masing menjadi 49 dan 11 kota, dan itu juga akan tersebar lebih luas.

Dalam skenario terburuk saat angka kesuburan berada di tingkat terendah, jumlah kota yang tersedia hanya 42 untuk kota dengan 100 ribu penduduk dan enam untuk kota dengan 500 ribu penduduk. Singkatnya setengah kota di Jepang akan menghadapi ‘eradikasi’ pada abad mendatang.

“Penurunan ini akan memiliki dampak buruk yang sama atau lebih besar dibandingkan dengan pemanasan global. Karena keahlian saya adalah ekonomi perkotaan, tujuan saya adalah untuk menunjukkan dampak spesifik dari penurunan demografi dengan harapan dapat meningkatkan kesadaran yang lebih luas,” kata Tomoya dikutip dari The Japan Times, Senin (20/5/2024).

Tanda-tanda menua dan berkurangnya populasi nampak jelas di wilayah pedesaan di Jepang. Salah satunya terjadi di desa Nanmoku, Prefektur Gunma yang mana 67,5 persen jumlah penduduknya adalah orang berusia 65 tahun ke atas.

Tidak hanya itu, jumlah rumah-rumah kosong dan terabaikan juga semakin banyak di Jepang. Berdasarkan survei Kementerian Dalam Negeri yang dilakukan pada Oktober tahun lalu, rumah kosong berjumlah 9 juta rumah.

Jumlah tersebut meningkat dua kali lipat dari 4,48 juta pada tahun 1993, serta pada tahun 205 diprediksi 744 dari 1.729 kota di Jepang mungkin akan hilang karena penurunan populasi yang tajam, berdasarkan laporan Dewan Strategi Kependudukan akhir April.

Para akademisi dan pemimpin bisnis mengusulkan agar Jepang memiliki target populasi stabil di angka 80 juta pada tahun 2100 untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi. Namun, Tomoya meragukan hal tersebut dapat terjadi.

Institut Nasional Penelitian Kependudukan dan Jaminan Sosial Jepang memproyeksikan jumlah penduduk Jepang pada tahun 2120 mencapai 71 juta pada tingkat kesuburan tinggi, 50 juta pada tingkat kesuburan sedang, dan 36 juta pada tingkat kesuburan rendah.

Tomoya mengatakan angka kelahiran yang sangat rendah saat ini dan kurangnya inisiatif yang masuk akal untuk membalikkan tren ini kemungkinan besar akan menyebabkan jumlah penduduk Jepang berada di bawah perkiraan.

“Jika jumlah penduduk turun hingga mencapai angka 30 juta, jumlah tersebut hampir sama dengan periode Edo (1603-1868),” katanya.

“Beberapa orang mungkin berkata, ‘Baiklah, saat itu segala sesuatunya dapat dikelola, bukan masalah besar.’ Namun jangan lupa bahwa infrastruktur kita saat ini didasarkan pada populasi sekitar 130 juta jiwa,” tandas Tomoya. (detik)

Share. Facebook Twitter Telegram WhatsApp LinkedIn

Related Posts

Studi Harvard Merilis RI Jadi Negara Nomor Satu, AS Kalah

14 Mei 2026

Fakta Menarik Final Liga Champions PSG Vs Arsenal

12 Mei 2026

5 Desa di Sei Rampah Diterjang Angin Puting Beliung, 4 Warga Terluka

14 Agustus 2025
Leave A Reply Cancel Reply

Demo
Top Posts

H Afrijon Ponggok, Sosok Komunikator Strategis, Pemimpin Korporasi dan Penggerak Sosial

13 Juni 2026

Awas! Pencuri Password Merajalela di Indonesia

18 Mei 2026

Jangan Heran Lihat Mobil Pakai Pelat Nomor Hijau, Ini Artinya

23 Mei 2026

Megawati Resmi Gabung Hyundai Hillstate di Liga Voli Korea, Berapa Gajinya?

16 Mei 2026
Don't Miss
Profil

H Afrijon Ponggok, Sosok Komunikator Strategis, Pemimpin Korporasi dan Penggerak Sosial

13 Juni 2026

Pekanbaru — H. Afrijon Ponggok, S.Sos.I., S.H., M.M., M.H., C.Med., adalah salah satu figur penting…

Wah, Bos Blueray Ungkap Beri Uang Rp91 Miliar ke Pejabat Bea Cukai

12 Juni 2026

Marc Marquez Dipuji Bos: Strategi di MotoGP Hungaria Nyaris Sempurna!

12 Juni 2026

Hasil Piala Dunia: Korea Selatan Comeback Dramatis, Sikat Ceko 2-1

12 Juni 2026
Stay In Touch
  • Facebook
  • Twitter
  • Pinterest
  • Instagram
  • YouTube
  • Vimeo

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from SmartMag about art & design.

Demo
Tentang Kami

Pojokmetro.com adalah media independen yang hadir dengan artikel dan berita kredibel dan update. Kami menyajikan informasi yang berguna bagi anda

Kami juga menerima partner di dunia digital

Facebook Instagram YouTube WhatsApp TikTok
Pilihan kami

H Afrijon Ponggok, Sosok Komunikator Strategis, Pemimpin Korporasi dan Penggerak Sosial

Profil 13 Juni 2026

Wah, Bos Blueray Ungkap Beri Uang Rp91 Miliar ke Pejabat Bea Cukai

Peristiwa 12 Juni 2026

Marc Marquez Dipuji Bos: Strategi di MotoGP Hungaria Nyaris Sempurna!

Sport 12 Juni 2026
Terpopuler

H Afrijon Ponggok, Sosok Komunikator Strategis, Pemimpin Korporasi dan Penggerak Sosial

Profil 13 Juni 2026

Awas! Pencuri Password Merajalela di Indonesia

Tekno 18 Mei 2026

Jangan Heran Lihat Mobil Pakai Pelat Nomor Hijau, Ini Artinya

Pilihan editor 23 Mei 2026
Copyright @ 2025 pojokmetro.com. All right reserved
  • Tentang kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.