Kualalumpur — Belakangan kasus kerusakan jantung pada anak muda di Malaysia meningkat. Konsultan Kardiolog dan Elektrofisiolog dari Sunway Medical Centre, Dr Gary Lee Chin Keong, mengungkap salah satu pemicunya adalah tekanan darah tinggi atau hipertensi.
Hipertensi menjadi salah satu kondisi kardiovaskular paling umum, tetapi sering kali tidak terdeteksi hingga komplikasi muncul. Karena jarang menimbulkan gejala pada tahap awal, banyak orang tidak menyadari kerusakan sudah terjadi di dalam tubuh.
Di Malaysia, hampir satu dari tiga orang dewasa mengalami hipertensi berdasarkan data kesehatan nasional. Namun, banyak kasus yang tetap tidak terdiagnosis. Kini, semakin banyak orang berusia 20-an hingga 30-an yang didiagnosis hipertensi, mencerminkan pergeseran yang cukup jelas dalam beberapa tahun terakhir.
Dr Gary menilai kondisi ini banyak dipicu faktor gaya hidup. Mulai dari jam kerja panjang, stres kronis, kurang tidur, minim aktivitas fisik, merokok, konsumsi garam berlebih, hingga kebiasaan makan makanan olahan atau ultra-process.
Ia juga menyoroti dampak tambahan obesitas dan diabetes yang sama-sama menciptakan apa yang disebut sebagai ‘kelompok faktor risiko kardiovaskular yang berbahaya’.
“Dengan onset yang lebih awal, individu terpapar efek hipertensi untuk jangka waktu yang lebih lama, meningkatkan kemungkinan komplikasi yang berkembang di kemudian hari,” tuturnya, dikutip dari Business Today Malaysia.
Kaitan Hipertensi dengan Kerusakan Jantung
Jantung dan pembuluh darah bekerja sebagai satu sistem. Jantung memompa darah, sementara pembuluh darah mendistribusikannya ke seluruh tubuh.
Ketika tekanan darah terus tinggi dalam waktu lama, jantung dipaksa bekerja lebih keras untuk menjaga sirkulasi darah tetap berjalan.
Pada awalnya, jantung akan beradaptasi dengan menjadi lebih tebal dan kuat. Namun, respons tersebut tidak menguntungkan dalam jangka panjang.
Tekanan yang terus-menerus secara bertahap membuat otot jantung menjadi lebih kaku. Kondisi ini menurunkan kemampuan jantung untuk relaks dan terisi darah dengan baik, sehingga efisiensi pemompaan ikut menurun.
Salah satu perubahan struktural paling awal adalah hipertrofi ventrikel kiri atau left ventricular hypertrophy (LVH), yakni kondisi ketika ruang pemompaan utama jantung menebal. Alih-alih meningkatkan fungsi, kondisi ini justru mengurangi ruang yang tersedia untuk darah, membatasi kapasitas pengisian, dan dapat mengurangi suplai oksigen ke otot jantung.
Seiring waktu, jantung menjadi kurang fleksibel dan lebih rentan mengalami gagal jantung. LVH juga kerap berkembang tanpa gejala dan biasanya baru terdeteksi lewat pemeriksaan seperti ekokardiogram, yang dapat menemukan perubahan sejak dini.
Penyebab Gejala Muncul Terlambat
Salah satu tantangan terbesar hipertensi adalah banyak orang tetap merasa sehat meski kerusakan terus berlangsung. Akibatnya, kondisi ini sering baru diketahui ketika komplikasi sudah berkembang.
Saat gejala mulai muncul, seperti nyeri dada, sesak napas, palpitasi, pusing, atau pingsan, keluhan tersebut kerap disalahartikan sebagai stres, kelelahan, atau gangguan pencernaan ringan. Kondisi ini membuat diagnosis dan pengobatan menjadi terlambat.
Dalam jangka panjang, tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol dapat meningkatkan risiko gagal jantung, stroke, serangan jantung, penyakit ginjal, hingga gangguan irama jantung.
“Ini memicu perubahan di seluruh jantung, otak, ginjal, dan pembuluh darah. Salah satu komplikasi penting adalah fibrilasi atrium, yaitu irama jantung tidak teratur yang dapat mengganggu aliran darah dan meningkatkan risiko pembekuan darah, sehingga meningkatkan kemungkinan terjadinya stroke, salah satu penyebab utama kematian di Malaysia,” jelas Dr Gary.
(wan/bbs)
